Do’a Seorang Kekasih

Oh Tuhan… seandainya telah kau catatkan
Dia milikku tercipta untuk diriku…
Satukanlah hatinya dengan hatiku…
Titiplah kebahagiaan…
Ya Allah kumohon apa yang telah kau takdirkan
Kuharap dia adalah yang terbaik untukku
Karena engkau tahu segala isi hatiku
Pelihara daku dari kemurkaan-Mu

Ilustrasi (kawanimut)

– Begitu terdengar lirik-lirik syair tersebut hingga melenakan hati seseorang yang terpaut dengan cinta. Karena lagu tersebut terlaris bagi kalangan aktivis yang mendambakan seorang kekasih. Seolah-olah lagu ini mengetahui segala isi hati insan yang dimabuk asmara cinta. Yah…cinta kalau dibicarakan pasti tidak akan ada habisnya. Cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah SWT. Jika kita mencintai Allah sebagai tujuan utama, insya Allah cinta kita terhadap sesama atau makhluk lainnya akan mengikuti dengan sendirinya.

Indahnya hidup di dunia ini ketika kita mampu bersyukur dengan ketetapan yang Allah berikan. Sesungguhnya ajal, jodoh, rizki sudah digariskan sejak kita lahir di bumi tercinta ini. Yakinlah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Terkadang kita berfikir apakah diri ini mampu mencapai impian ataukah tidak…semua itu butuh proses dan kematangan dalam jiwa.

Setiap kita pasti memiliki problem masing-masing yang berbeda satu sama lainnya. Ketika sedang kuliah sering ditanyakan, kapan wisuda??? Setelah tamat wisuda ditanyakan kapan menikah??? Setelah menikah ditanyakan lagi kapan punya anak??? Dan sebagainya…subhanallah begitu pertanyaan muncul bertubi-tubi dalam ritme kehidupan ini.

Wajar saja ketika pertanyaan itu muncul, kita hanya bisa menjawab dengan senyuman penuh arti. Karena Allah lah yang menentukan segala-galanya termasuk pendamping hidup kita, hingga tiba masanya akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Apalagi kalau setengah dien kita sudah lengkap, hm…jadi tambah semangat nih menyongsong masa depan.

Sahabatku…yang penting jika kita ingin mendapatkan pendamping hidup yang shalih/shalihah dan terbaik, so… perbaiki dulu kualitas pribadi kita termasuk ruhiyah nya loh. Wanita yang baik pasti akan mendapatkan laki-laki yang baik pula, begitu sebaliknya. Mulai sekarang yuk tingkatkan amalan wajib kita seperti shalat, puasa, zakat, dll. Perbanyak do’a agar kita mendapatkan pasangan hidup dunia dan akhirat serta diiringi dengan shalat istikharah untuk menentukan yang terbaik di antara pilihan. Karena sebaik-baik pilihan, hanya pilihan Allah SWT yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Kemudian ditambahin dengan amalan sunnah lainnya yang bervariasi dan berkualitas. Wah…kalau semuanya terpenuhi insyAllah impian kita bakalan tercapai. Amin…

Sesuai dengan surat (Ar-Rum: 21)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan saying. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Dalam keheningan malam ku basuh muka, tangan dan kakiku sambil mengambil air wudhu niat karena Allah SWT, kuhamparkan  sajadah merah, dalam keheningan malam aku bersujud kepada pemilik Arsy penguasa kehidupan dengan khusyuk dan khidmat tenggelam dalam tahajjud, aku bersimpuh mengangkat kedua tangan, bermunajat, berdo’a kepada zat yang maha mengabulkan do’a.

Ya Allah jangan biarkan aku hidup seorang diri tanpa teman sejati

Ya Allah berikanlah pendamping terbaik untukku yang dapat menentramkan hatiku, pendamping yang dapat membawaku lebih dekat dengan cinta-Mu.

Ya Allah berikan pendamping untukku yang dapat membawaku ke surga-Mu

Ya Allah anugerahkan pendamping dan anak keturunanku menjadi permata hatiku, serta jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa

Ya Allah kabulkanlah do’a dan permohonanku

Amin Ya Rabbal’alamin…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/20026/doa-seorang-kekasih/#ixzz1t7DBkijU

10 jalan penghapus dosa

Diantara jalan bagi penghapus dosa bagi seorang muslim dan mukmin, diantaranya,pertama, membaca istighfar (memohon ampun), kedua, taubat, ketiga, mengerjakan amal-amal kebaikan yang menghapuskan dosa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya :

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itlah peringatan bagi orang-orang yang ingat“. (QS : Hud :114)

 

Keempat, berbagai musibah yang menimpa diri manusia yang lemah karena dosa yang telah dilakukannya. Yang paling berat adalah musibah yang mengantarkannya pada kematian dan yang paling ringan adalah duri yang menusuk dirinya serta teriknya sinar matahari yang menyengat.

kelima, doa orang-orang mukmin shalih yang diperuntukkan bagi yang bersangkutan. Keenam, kerasnya rasa sakit saat meregang nyawa dan kesulitan yang dialami oleh orang yang bersangkutan saat menghadapi kematiannya yang kepedihan dan rasa sakitnya tak terperikan. Semoga Allah meringankan penderitaannya bagi diri kami dan juga bari diri anda pada saat yang kritis itu. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ketujuh, Adzab khubur. Tahukah anda apakah adzab khubur itu? Adzab khubur pasti akan mencabut kalbu orang-orang yang mengesakan dan pasti akan terasa hampir melayangkannya, jika mereka mempunyai sedikit keyakinan tentangnya.

Kedelapan, ketakutan yang sangat pada hari menghadap kepada Allah Ta’ala pada hari Kiamat nanti. Itulah saat kita keluar dari khuburan kita dalam keadaan menangis karena berdosa seraya memilkul semua kesalahan dan kedurahakaan yang telah kita lakukan, lalu kita datang untuk dihadapkan kepada peradilan Allah Ta’ala.

Kesembilan, syafa’at Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, syafaat para wali, dan syafaat orang-orang yang shalih. Sesungguhnya hal ini telah dinyatakan kebenarannya oleh kalangan ulama ahli sunnah.

Sepuluh, rahmat dari Yang Maha Penyayang diantara para penyayang. Saat semua rahmat telah habis, semua pintu telah tertutup, dan habislah semua kemampuan para hamba. Saat itulah datang pertolongan dari Allah Yang Maha Esa lagi Maha Membalas dan datanglah rahmah dari Allah Ta’ala, lalu Dia merahmati, menolong, dan menyayangi. Maka rahmat-Nyaadalah akhir dari segalanya,yaitu rahmat dari Yang Maha Penyayang diantara para penyayang.

Selanjutnya Ibn Taimiyah mengatakan, bahwa barangsiapa yang terlewatkan dari sepuluh macam penghapus dosa ini, maka sesungguhnya dia pasti masuk neraka dengan sebenarnya, karena sesungguhnya dia telah lari dari Allah seperti unta yang lari dari pemilikinya dan dia telah pergi dari Allah, sebagaimana seorang budak pembangkang yang pergi dari tuannya.

sumber:http://materitarbiyah.com/kultum/sepuluh-jalan-penghapus-dosa.html

curahan hati seorang ikhwan

 

 

22 Jumadil Awal 1433 H

 

Curahan Hati Seorang Ikhwan

 

Assalamualaikum Wr.Wb.

 

Alhamdulillahirobbil a’lamin wabihi nasta’in wa’alaumuridunya wadin,assolatuwassalamu alaasrafil anbiyai wal mursalin wa’ala alihi waashabihi ajmain.Ama ba’du.

Puji serta syukur semoga selalu terlimpah curahkan kehadirat Allah SWT,yang telah mempertemukan saya dengan antum.

Salawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kehadirat junjungan kita Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Beserta keluarga,sahabat,serta umatnya hinggal akhir jaman,insya allah kita termasuk kedalamnya.

Amiin..

 

Saya sudah menduga kalau saat ini pasti terjadi,Cuma tinggal menunggu waktu karena saya pun tahu kalau apa yang kita lakukan selama ini salah.

Sebelumnya saya mau bilang entah kenapa saya saat ini merasa bahagia sekali tidak seperti kata orang bisa “ sakit hati ”,tapi saat saya menulis ini perasaan saya begitu senang,mungkin karena selama ini saya menyukai orang yang tepat cuma caranya yang salah.

Benar apa kata antum,kita memang tidak pernah berduaan,kita tidak pernah teleponan tetapi kita tiap hari SMS-an.hati kita selalu bermaksiat,khususnya saya yang selalu memikirkan antum.mudah2an Allah memaafkan segala kesalahan kita…amiin

Sebelum saya panjang lebar cerita,saya mau flashback kebelakang,ketika pertama kali kita bertemu.

Allah mempertemukan kita saat saya mampir ke NF sewaktu saya pulang dari Bandung,waktu itu Allah menuntun saya untuk mampir ke NF.

Waktu pertama kali saya bertemu antum saya pikir antum adalah siswa yang sedang belajar di NF tapi belakangan saya tau bahwa antum adalah staff disana.

Saya mulai menyukai antum sejak pertama kita berjumpa,waktu itu antum bilang ke saya “sering-sering aja mas’e main ke nf”..kata-kata itulah yang selalu saya ingat sewaktu saya pulang dr NF,sy terus memikirkan ttg antum,ada perasaan lain swaktu saya bertemu dengan antum untuk pertama kalinya,saya mulai “menyukai” antum.

Saya masih ingat sewaktu saya minta no hp antum,butuh perjuangan juga sampai akhirnya dengan belas kasihan antum memberikan juga no hp ke saya,karena merasa iba pada saya karena saya terus merengek meminta no hp antum..hehehe..

Awal komunikasi kita dimalam yang begitu mulia,yaitu malam Idul Fitri,itulah saat pertama kali saya berkomunikasi via SMS dengan antum.mengucapkan minal aidin wal faidzin.

walaupun waktu itu antum masih malas-malasan membalas SMS saya tapi saya terus SMS antum sampai mungkin antum merasa “bosan” dan akhirnya dibalas juga SMS saya…hehe

Saat itu juga lah saya mencari terus info tentang antum,tiap kali saya buka FB saya selalu sempatkan untuk melihat FB antum,hanya untuk memastikan apakah antum sudah ada yang punya apa belum.hehe

Komunikasi terus berjalan sampai akhirnya saya benar-benar menyukai antum,tiap hari saya mendoakan antum,saya selalu meminta kepada Allah agar suatu saat saya bisa menjadi imam buat antum walau saya tak tahu apakah antum menyukai saya atau tidak.

Banyak hal yang saya alami selama berteman dengan antum,banyak suka dan dukanya,sukanya ialah antum begitu baik kepada saya dukanya saya selalu diliputi rasa cemburu kepada antum tatkala antum tak balas SMS saya,karena kata Rasul “ cemburu adalah tanda suka “.

Hal yang paling menggembirakan juga ialah ketika antum memberikan sebuah foto editan kepada saya pada malam 1 Muharam 1433 H,entah mimpi atau apa saya merasa sangat bahagia sekali,bbrp hari saya terus pandangi foto itu walau saya tau mungkin itu salah.

Kemudian ketika saya milad,antum memberikan saya kado yang istimewa,belum pernah saya mendapatkan itu sebelumnya,saya mendapatkan kue ulang tahun untuk pertama kalinya sepanjang hidup saya,saya sempat menangis ketika tau ada orang yang memperhatikan saya,begitu baik kepada saya.

Sampai akhirnya,malam ini,dihari yang dimuliakan Allah Jum’at malam Sabtu,antum memberikan kabar yang agak mengejutkan tetapi saya sudah menduga suatu saat,hal ini pasti akan terjadi sehingga tadi saya mengatakan lewat SMS “sok mangga,apapun saya akan terima “,,itu adalah karena saya sudah menduga apa yang akan antum katakan kepada saya.

Saya,antum,atau siapapun tidak akan tau dengan siapa kita akan berjodoh,sejujurnya saya tak ingin hal ini sampai terjadi,berat sekali untuk saya,

tetapi dibalik semua itu Allah lah yang menentukan,saya dan antum tidak tau apakah kita berjodoh atau tidak tetapi jika memang Allah menjodohkan kita suatu saat,saya yakin seyakin-yakinnya Allah pasti akan memberikan jalan yang terbaik untuk saya agar bisa hidup bersama dengan antum,tinggal menunggu waktu,kalau tidak mudah2an Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk kita…amiin

Mungkin sekarang kita memang belum saatnya melakukan ini,kita sekarang memang harus masih terus belajar dan beribadah kepada Allah,lakukan yang terbaik mumpung selagi bisa,dan selagi muda.

Seperti kata Rasul 7 golongan yang akan masuk surga salah satunya ialah pemuda yang mengisi masa mudanya dengan beribadah,mari sekarang kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah,untuk urusan jodoh serahkan saja pada-Nya,Dia yang MahaMengetahui mana yang terbaik untuk saya dan untuk antum.

Selama ini kita memang salah mudah2an Allah memaafkan kesalahan kita…amiin

Akhirnya saya cuma mau mengucapkan terima kasih karena antum sudah mengisi hidup saya,mengisi hati saya,antum sudah mau mendengarkan keluh kesah saya,antum sudah menjadi orang yang paling baik dengan saya,antum orang yang membuat saya lebih mengenal agama islam,antum yang membuat saya lebih giat ibadah,shaum,duha,solat malam mudah2an walaupun tanpa antum saya masih terus bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah saya dan saya pun berdoa semoga antum pun begitu.

“Begitu indah rasa yang Allah titipkan untukku padamu…”.

Umi,saya menyukai dan mencintai antum,suatu saat jika kita berjodoh 2 tahun pasca saya lulus s1 dan berpenghasilan insya allah saya ingin menemui orang tua antum,saya ingin melamar antum untuk menjadi pendamping hidup saya,saya tidak mau masuk surga sendiri,saya ingin masuk surga bersama-sama dengan antum.

Sayap saya cuma sebelah,saya ingin suatu saat antum menjadi sayap saya yang satunya lagi agar saya bisa terbang kesurga bersama-sama dengan antum.

*Itupun kalau antum belum ada yang punya…

Sampai saat itu tiba,jika antum memiliki perasaan yang sama dengan saya,saya ingin antum menjaga diri antum,jauhi finah sampai saya bertemu dengan orangtua antum kecuali jika Allah menakdirkan yang lainnya dikemudian hari.

Saya tidak akan pernah menyukai orang lain lagi setelah ini sampai saya tahu jika antum sudah ada yang punya,sampai benar-benar saya tahu kalau saya tidak berjodoh dengan antum.

Bersama ini pula saya ingin antum membaca cerita pendek yang saya kirimkan bersama email ini,cerita ini saya dapatkan sudah bbrp bulan yang lalu tadinya mau saya langsung kirimkan ke antum tetapi saya belum berani mengirimkannya,mungkin ini saat yang tepat untuk menyampaikannya.ceritanya sangat mirip dengan hubungan kita sekarang,semoga bermanfaat.

Umi ,jaga dirimu baik-baik yaa,saya akan tetap menyukai antum,saya akan tetap menunggu antum jika memang Allah menjodohkan kita.

Jauhi hal-hal yang mendatangkan mudarat dan fitnah,mudah2an hubungan kita sekarang tidak menjadi fitnah untuk kita kedepannya..amiin..

Awal yang baik maka harus diakhiri dengan yang baik,jika pertama kali kita komunikasi pada malam 1 syawal maka saya pun sekarang ingin mengucapkan,,minalaidin wal faidzin,mohon maaf kalau selama ini saya banyak salah.

Mudah-mudahan pernyataan antum semalam benar-benar hasil istikharah antum bukan karena pendapat orang lain,kalau memang antum sudah dijodohkan selamat ya…:-)

O iya,setiap kali saya kuliah saya selalu menuliskan nama antum berdampingan dengan nama saya dipojok buku catatan saya,mungkin sekarang sudah tidak bisa lagi.hanya nama saya saja sendiri.

Sampai disini ya,semoga antum tidak capek bacanya,tolong dibaca sampai akhir.

 

Sekian dari saya,

Kalau ada sumur diladang,boleh kita menumpang mandi

Kalau ada umur panjang,mudah2an kita berjumpa lagi.

 

Akhir wa kalam..

Ihdinasiratal mustaqim.

Wassalamualaikum wr.wb

 

#note :buku La Tahzan itu untuk antum,tanda persahabat dari saya mohon diterima yaa,jangan dikembalikan…J JJ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“4 Pria yang ditarik Wanita ke Neraka”

Just ilustration: “Ayah, mengapa selama didunia engkau tidak serius membimbingku ketika didunia, mengapa engkau biarkan aku tergelincir dan akhirnya masuk kedalam kubang neraka ini, engkau harus bisa mempertanggungjawabkan ini, engkaupun juga harus ikut aku ke neraka” ucap sang anak perempuan di hadapan sang ayah dimana zaman itu tiba.

itu adalah salah satu contoh ilustrasi bahwa betapa sangat besar seorang laki-laki memiliki peran dan tanggungjawab selama didunia. Berikut kategori 4 pria yang nantinya akan ditarik oleh wanita ke neraka.

1. AYAHNYA Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya didunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti Sholat,mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup Aurat. Seorang ayah tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia saja maka dia akan ditarik oleh anaknya ke neraka.

just ilustration picture

2. SUAMINYA Apabila seorang suami tidak memperdulikan tindak tanduk Istrinya. Bergaul bebas ditempat kerja,berhias diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan Mahram, Apabila suami mendiamkan diri.. Walaupun dia seorang Alim (Sholat tidak ditunda,puasa tidak ditinggal) maka dia akan ditarik oleh istrinya ke Neraka.

3. SAUDARA LAKI-LAKINYA (ABANGNYA) Apabila ayahnya sudah tiada, tanggung jawab menjaga maruah wanita jatuh pada saudara Laki-lakinya (Abangnya). Kalau mereka hanya pentingkan keluarganya saja dan adik perempuannya dibiarkan melenceng dari ajaran Islam.. Tunggulah Tarikan adiknya ke Neraka.

4. ANAK LAKI-LAKINYA Bila mana tidak menasehati ibunya tentang kelakuan yang haram dari islam, maka anak itu akan dimintai pertanggung Jawaban di Akhirat Kelak… Maka nantilah Tarikan Ibunya ke Neraka. Betapa hebatnya tarikan wanita bukan saja didunia bahkan di Akhirat tarikannya begitu kuat.. Maka kaum lelaki yang bergelar Ayah,Suami,Abang lebih baiknya memainkan peranan yang sebenarnya. Seperti Firman ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala : LELAKI ITU PEMIMPIN ATAS WANITA (QS. AL-Maidah : 34) Hai Wanita kasihanilah ayah anda,suami anda,saudara laki-laki anda serta anak-anak laki” anda.. Kasihanilah dirimu dengan Jalankan Perintah ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala Untuk Para Muslimah ~ Semoga Hijab menjadi Pakaianmu ~Semoga Kesucian menjadi Amalanmu ~Semoga kesopanan menjadi Pribadimu Semoga bermanfaat untuk kita semua

Tentang Kaidah “Kita Bantu-Membantu dalam Masalah yang Kita Sepakati, dan Bersikap Toleran Dalam Masalah yang Kita Perselisihkan”

Yang membuat kaidah atau ungkapan. Kita bantu-membantu (tolong-menolong) mengenai apa yang kita sepakati dan bersikap toleran dalam masalah yang kita perselisihkan adalah al-Allamah Sayyid Rasyid Ridha rahimahullah, pemimpin madrasah Salafiyah al-Haditsah, pemimpin majalah al-Manar al-Islamiyyah yang terkenal itu, pengarang tafsir, fatwa-fatwa, risalah-risalah, dan kitab-kitab yang mempunyai pengaruh besar terhadap dunia Islam. Sebelum ini, beliau telah mencetuskan kaidah al-Manar adz-Dzahabiyyah yang maksudnya ialah “tolong-menolong sesama ahli kiblat” secara keseluruhan dalam menghadapi musuh-musuh Islam.

Beliau mencetuskan kaidah tersebut tidak sembarang, tetapi berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, As-Sunnah, bimbingan salaf shalih, karena kondisi dan situasi, dan karena kebutuhan umat Islam untuk saling mendukung dan membantu dalam menghadapi musuh mereka yang banyak. Meskipun di antara mereka terjadi perselisihan dalam banyak hal, tetapi mereka bersatu dalam menghadapi musuh. Inilah yang diperingatkan dengan keras oleh Al-Qur’an, yaitu: orang-orang kafir tolong-menolong antara sesama mereka, sementara orang-orang Islam tidak mau saling menolong antara sesamanya. Allah berfirman

“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (al Anfal 73)

Makna illaa taf’aluuhu (jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu) ialah: jika kamu tidak saling melindungi dan saling membantu antara sebagian dengan sebagian lain sebagaimana yang dilakukan orang-orang kafir. Jika itu tidak dilakukan, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi. Sebab, orang-orang kafir itu mempunyai sikap saling membantu, saling mendukung, dan saling melindungi yang sangat kuat di antara sesama mereka, terutama dalam menghadapi kaum muslimin yang berpecah-pecah dan saling merendahkan sesamanya.

Karena itu, tidak ada cara lain bagi orang yang hendak memperbaiki Islam kecuali menyeru umat Islam untuk bersatu padu dan tolong-menolong dalam menghadapi kekuatan-kekuatan musuh Islam.

Apakah cendekiawan muslim yang melihat kerja sama dan persekongkolan Yahudi internasional, misionaris Barat, komunis dunia, dan keberhalaan Timur di luar dunia Islam, dapat merajut kelompok-kelompok dalam dunia Islam yang menyempal dari umat Islam? Mampukah mereka menyeru ahli kiblat untuk bersatu dalam satu barisan guna menghadapi kekuatan musuh yang memiliki senjata, kekayaan, strategi, dan program untuk menghancurkan umat Islam, baik secara material maupun spiritual?

Begitulah, para muslih menyambut baik kaidah ini dan antusias untuk melaksanakannya. Yang paling mencolok untuk merealisasikan hal itu ialah al-Imam asy-Syahid Hasan al-Bana, sehingga banyak orang al-Ikhwan yang mengira bahwa beliaulah yang menelorkan kaidah ini.

Adapun masalah bagaimana kita akan tolong-menolong dengan ahli-ahli bid’ah dan para penyeleweng, maka sudah dikenal bahwa bid’ah itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada bid’ah yang berat dan ada yang ringan, ada bid’ah yang menjadikan pelakunya kafir dan ada pula bid’ah yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, meskipun kita menghukuminya bid’ah dan menyimpang.

Tidak ada larangan bagi kita untuk bantu-membantu dan bekerja sama dengan sebagian ahli bid’ah dalam hal-hal yang kita sepakati dari pokok-pokok agama dan kepentingan dunia, dalam menghadapi orang yang lebih berat bid’ahnya atau lebih jauh kesesatan dan penyimpangannya, sesuai dengan kaidah: “Irtikaabu akhaffidh dhararain” (memilih/melaksanakan yang lebih ringan mudaratnya).

Bukan hanya bid’ah, kafir pun bertingkat-tingkat, sehingga ada kekafiran di bawah kekafiran, sebagaimana pendapat yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi’in. Dalam hal ini tidak ada larangan untuk bekerja sama dengan ahli kafir yang lebih kecil kekafirannya demi menolak bahaya kekafiran yang lebih besar. Bahkan kadang-kadang kita perlu bekerja sama dengan sebagian orang kafir dan musyrik – meskipun kekafiran dan kemusyrikannya sudah nyata – demi menolak kekafiran yang lebih besar atau kekafirannya sangat membahayakan umat Islam.

Dalam permulaan surat ar-Rum dan sababun-nuzul-nya diindikasikan bahwa Al-Qur’an menganggap kaum Nashara – meskipun mereka juga kafir menurut pandangannya (Al-Qur’an) – lebih dekat kepada kaum muslim daripada kaum Majusi penyembah api. Karena itu, kaum muslim merasa sedih ketika melihat kemenangan bangsa Persia yang majusi terhadap bangsa Rum Byzantium yang Nashara. Adapun kaum musyrik bersikap sebaliknya, karena mereka melihat kaum majusi lebih dekat kepada aqidah mereka yang menyembah berhala.

Ketika itu turunlah Al-Qur’an yang memberikan kabar gembira kepada kaum muslim bahwa kondisi ini akan berubah, dan kemenangan akan diraih bangsa Rum dalam beberapa tahun mendatang:

“… Dan pada hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah …” (ar-Rum: 4-5)

Secara lebih lengkap Al-Qur’an mengatakan:

“Alif laam miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi di negeri yang terdekat Dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (ar-Rum: 1-5)

Nabi SAW pernah meminta bantuan kepada sebagian kaum musyrik Quraisy setelah Fathu Makkah, dalam menghadapi musyrikin Hawazin, meskipun derajat kemusyrikan mereka sama. Hal itu beliau lakukan karena menurut pandangan beliau bahwa kaum musyrik Quraisy mempunyai hubungan nasab yang khusus dengan beliau. Di samping itu, suku Quraisy termasuk suku yang mendapat tempat terhormat di kalangan masyarakat, sehingga Shafwan bin Umayyah sebelum masuk Islam pernah mengatakan, “Sungguh saya lebih baik dihormati oleh seorang Quraisy daripada dihormati oleh seorang Hawazin.”

Bagi Ahlus-Sunnah – meski bagaimanapun mereka membid’ahkan golongan Muktazilah – tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkan ilmu dan produk pemikiran golongan Muktazilah dalam beberapa hal yang mereka sepakati, sebagaimana tidak terhalangnya mereka untuk menolak pendapat Muktazilah yang mereka pandang bertentangan dengan kebenaran dan menyimpang dari Sunnah.

Contoh yang paling jelas ialah kitab Tafsir al-Kasysyaf karya al-Allamah az-Zamakhsyari, seorang Muktazilah yang terkenal. Dapat dikatakan hampir tidak ada seorang alim pun (dari kalangan Ahlus Sunnah) – yang menaruh perhatian terhadap Al-Qur’an dan tafsirnya – yang tidak menggunakan rujukan Tafsir al-Kasysyaf ini, sebagaimana tampak dalam tafsir ar-Razi, an-Nasafi, an-Nisaburi, al-Baidhawi, Abi Su’ud, al-Alusi, dan lainnya.

Begitu pentingnya Tafsir al-Kasysyaf ini (bagi Ahlus-Sunnah) sehingga kita dapati orang-orang seperti al-Hafizh Ibnu Hajar mentakhrij hadits-haditsnya dalam kitab beliau yang berjudul Al-Kaafil asy-Syaaf fi Takhriji Ahaadiits al-Kasysyaaf. Kita jumpai pula al-Allamah Ibnul Munir yang menyusun kitab untuk mengomentari al-Kasysyaf ini, khususnya mengenai masalah-masalah yang diperselisihkan dengan judul al-Intishaaf min al-Kasysyaaf.

Imam Abu Hamid al-Ghazali, ketika menyerang ahli-ahli filsafat yang perkataan-perkataannya menjadi fitnah bagi banyak orang, pernah meminta bantuan kepada semua firqah Islam yang tidak sampai derajat kafir. Karena itu, beliau tidak menganggap sebagai halangan untuk menggunakan produk dan pola pikir Muktazilah dan lainnya yang sekiranya dapat digunakan untuk menggugurkan pendapat/perkataan ahli-ahli filsafat tersebut. Dan mengenai hal ini beliau berkata dalam mukadimah Tahafut al-Falasifah sebagai berikut:

“Hendaklah diketahui bahwa yang dimaksud ialah memberi peringatan kepada orang yang menganggap baik terhadap ahli-ahli filsafat dan mengira bahwa jalan hidup mereka itu bersih dari pertentangan, dengan menjelaskan bentuk-bentuk kesemrawutan (kerancuan) mereka. Karena itu, saya tidak mencampuri mereka untuk menuntut dan mengingkari, bukan menyerukan dan menetapkan perkataan mereka. Maka saya jelekkan keyakinan mereka dan saya tempatkan mereka dengan posisi yang berbeda-beda. Sekali waktu saya nyatakan mereka bermazhab Muktazilah, pada kali lain bermazhab Karamiyah, dan pada kali lain lagi bermazhab Waqifiyah. Saya tidak menetapkannya pada mazhab yang khusus, bahkan saya anggap semua firqah bersekutu untuk menentangnya, karena semua firqah itu kadang-kadang bertentangan dengan paham kita dalam masalah-masalah tafshil (perincian, cabang), sedangkan mereka menentang ushuluddin (pokok-pokok agama). Karena itu, hendaklah kita menentang mereka. Dan ketika menghadapi masalah-masalah berat, hilanglah kedengkian di antara sesama (dalam masalah-masalah kecil/cabang).”

Saudara penanya berkata, “Bagaimana kita bersikap toleran kepada orang yang menentang kita, yang nyata-nyata menyelisihi nash Al-Qur’an atau hadits Nabawi, sedangkan Allah berfirman:

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah).” (an-Nisa’: 59)

Menurut saya (Qaradhawi), saudara penanya ini tidak mengetahui suatu perkara yang penting, yaitu bahwa nash-nash itu mempunyai perbedaan besar dilihat dari segi tsubut (periwayatan) dan dilalah (petunjuk)-nya, yaitu ada yang qath’i dan ada yang zhanni. Di antara nash-nash itu ada yang qath’i tsubut seperti Al-Qur’an al-Karim dan hadits-hadits mutawatir yang sedikit jumlahnya itu. Sebagian ulama menambahkannya dengan hadits-hadits Shahihain yang telah diterima umat Islam dan disambut oleh generasi yang berbeda-beda sehingga melahirkan ilmu yang meyakinkan. Tetapi sebagian ulama lagi menentangnya, dan masing-masing mempunyai alasan:

Di samping itu, ada nash yang zhanni tsubut. Misalnya, hadits-hadits umumnya, baik yang shahih maupun hasan yang diriwayatkan dalam kitab-kitab sunan, musnad, mu’jam, dan mushannaf yang bermacam-macam.

Pada taraf zhanniyyah ini derajat hadits itu bermacam-macam. Ada yang shahih, hasan, shahih lidzatihi dan hasan lidzatihi, serta ada pula yang shahih lighairihi dan hasan lighairihi, sesuai dengan sikap imam-imam dalam mensyaratkan penerimaan dan pentashihan suatu hadits, ditinjau dari segi sanad atau matan, atau keduanya. Karena itu, ada orang yang menerima hadits mursal dan menjadikannya hujjah, ada yang menerimanya dengan syarat-syarat tertentu, dan ada yang menolaknya secara mutlak.

Kadang-kadang ada yang menganggap seorang rawi itu dapat dipercaya, tetapi yang lain menganggapnya dhaif. Ada pula yang menentukan beberapa syarat khusus dalam tema-tema tertentu yang dianggap memerlukan banyak jalan periwayatannya, sehingga ia tidak menganggap cukup bila hanya diriwayatkan oleh satu orang. Hal ini menyebabkan sebagian imam menerima sebagian hadits dan melahirkan beberapa hukum daripadanya, sedangkan imam yang lain menolaknya karena dianggapnya tidak sah dan tidak memenuhi syarat sebagai hadits shahih. Atau ada alasan lain yang lebih kuat yang menentangnya, seperti praktek-praktek yang bertentangan dengannya.

Masalah di atas banyak contohnya dan sudah diketahui oleh orang-orang yang mengkaji hadits-hadits ahkam, fiqih muqaran (perbandingan), dan fiqih mazhabi. Mereka menulisnya dalam kitab-kitab mereka yang disertai dengan dalil-dalil untuk memperkuat mazhabnya dan menolak mazhab/orang yang bertentangan dengannya.

Sebagaimana perbedaan nash dari segi tsubut-nya, maka perbedaan nash dari segi dilalah lebih banyak lagi.

Di antara nash-nash itu ada yang qath’i dilalahnya atas hukum, yang tidak mengandung kemungkinan lain dalam memahami dan menafsirkannya. Contohnya, dilalah nash yang memerintahkan shalat, zakat, puasa, serta haji (yang menunjukkan wajibnya); dilalah nash yang melarang zina, riba, minum khamar, dan lain-lainnya (yang menunjukkan keharamannya), dan dilalah nash-nash al-Qur’an dalam pembagian waris. Tetapi nash yang qath’i dilalahnya ini jumlahnya sedikit sekali.

Kemudian ada pula nash-nash yang zhanni dilalahnya, yakni mengandung banyak kemungkinan pengertian dalam memahami dan menafsirkannya.

Karena itu, ada sebagian ulama yang memahami suatu nash sebagai ‘aam (umum), sedangkan yang lain menganggapnya makhsus (khusus). Yang sebagian menganggapnya mutlak, yang lain muqayyad. Yang sebagian menganggapnya hakiki, yang lain majazi. Yang sebagian menganggapnya mahkam (diberlakukan hukumnya), yang lain mansukh. Yang sebagian menganggapnya wajib, yang lain tidak lebih dari mustahab. Atau yang sebagian menganggap nash itu menunjukkan hukum haram, yang lain tidak lebih dari makruh.

Adapun kaidah-kaidah ushuliyyah yang kadang-kadang oleh sebagian orang dikira sudah mencukupi untuk menjadi tempat kembalinya segala persoalan, hingga setiap perbedaan dapat diselesaikan dan setiap perselisihan dapat diputuskan, ternyata dari beberapa segi masih diperselisihkan. Ada yang menetapkannya, ada yang menafikannya, dan ada yang memilih di antara yang mutlak dan muqayyad.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19722/tentang-kaidah-kita-bantu-membantu-dalam-masalah-yang-kita-sepakati-dan-bersikap-toleran-dalam-masalah-yang-kita-perselisihkan/#ixzz1ro3pJGVO

5 rahasia rejeki

Yang pertama, “memberi”. Kembangkan sikap mental memberi dan memberi. Orang yang bisa memberi tentunya adalah orang yang sudah kecukupan, bila Anda segan untuk memberi, Anda sebenarnya merasa kekurangan, dan perasaan kekurangan inilah yang mendatangkan lebih banyak kekurangan dan kemiskinan.

Ingatlah : apa yang tidak Anda berikan untuk orang lain, tidak anda berikan untuk diri Anda sendiri. Memberi tidak berarti Anda akan kekurangan, justru sebaliknya dengan semakin banyak memberi Anda akan semakin banyak menerima. Hukum universal mengatakan bahwa apa yang Anda tabur akan Anda tuai, artinya jika Anda memberi, Anda akan menerima panenan berlipat ganda. Seperti menanam padi, satu bibit padi yang ditanam, akan menghasilkan ratusan bahkan ribuan biji padi.

Dalam praktik sehari-hari, bersikaplah murah hati, bersikaplah belas kasih, tolonglah orang lain yang membutuhkan pertolongan, dan layani orang lain dengan tulus, ikhlas, dan penuh kegembiraan. Berikan nilai tambah atau peningkatan hidup bagi orang lain.

Kedua, “jangan mengeluh”. Jangan pernah membicarakan tentang kekurangan dan keterbatasan ekonomis yang Anda hadapi kepada orang lain. Hal ini kurang bijaksana. Semakin Anda sering membicarakannya, sebenarnya Anda sedang memfokuskan pikiran pada kekurangan dan ketidakcukupan. Hukum pikiran mengatakan bahwa pikiran bersifat mencipta dan kreatif, artinya fokus Anda akan menciptakan kondisi-kondisi dan memperbesar apa yang Anda bicarakan dan bayangkan. Adalah lebih bijaksana bila Anda hitung rahmat dan berkat yang sudah Anda terima setiap hari. Dan fokuskan pikiran Anda pada hal-hal yang membawa kesejahteraan dan kelimpahan.

Bila Anda dalam kondisi damai, tenang, dan sejahtera, inilah kunci di mana rezeki mudah untuk singgah kepada Anda.

Ketiga, “jangan cemburu”. 
Biasanya orang lebih mudah untuk cemburu kepada orang lain yang lebih sukses, lebih kaya. Kecemburuan muncul pada saat Anda membandingkan apa yang Anda miliki dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Dan biasanya Anda akan membandingkan secara tidak fair, maksudnya Anda akan membandingkan apa yang belum Anda miliki dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, dengan begitu perasaan kekurangan atau rendah diri itu akan muncul pada diri Anda, dan inilah perasaan yang tidak menguntungkan bagi kemampuan Anda untuk menarik aliran rezeki.

Kecemburuan ini adalah sikap mental tidak bisa menerima keadaan. Semakin tidak bisa menerima keadaan, Anda akan semakin tidak bisa berfokus pada sasaran dan akan bertindak dengan tergesa-gesa mengerjakan sesuatu yang seharusnya Anda kerjakan. Akibatnya, hasil yang Anda harapkan akan meleset dari bidikan Anda. Solusinya, Anda harus berusaha untuk bisa menerima keadaan diri Anda apa adanya, sehingga pikiran Anda akan menjadi lebih damai.

Bila Anda dipenuhi oleh kecemburuan, pikiran Anda akan terfokus pada ketidakmampuan, ketidakcukupan, tidak layak, kekurangan, ketidakpuasan, dan kemiskinan. Marilah kita menyimak kembali kepada hukum pikiran bahwa apa yang Anda fokuskan akan menjadi realitas kehidupan Anda. kalau Anda dalam keadaan cemburu, sebetulnya Anda membuang energi dengan sia-sia, karena fokus Anda akan dikaburkan oleh perasaan cemburu itu dan hasilnya sasaran Anda akan meleset jauh. Jadi hapuskan kecemburuan Anda!

Keempat, “jangan membenci”. Sama halnya dengan cemburu, orang juga lebih mudah untuk membenci orang lain yang lebih sukses, lebih kaya. Kalau Anda membenci orang yang sukses, atau yang kaya, sebetulnya secara tidak sadar Anda sedang mengirimkan pesan kepada bawah sadar bahwa Anda tidak menyukai sukses dan kaya. Lebih jelasnya sebenarnya Anda menolak sukses dan kaya untuk hadir dalam hidup Anda. Itulah maksud tersembunyi dari kebencian Anda.

Hukum pikiran mengatakan bahwa pikiran bawah sadar bereaksi terhadap pikiran yang dominan dan sugesti yang disampaikan oleh pikiran sadar. Di dalam kebencian, terkandung suatu pikiran atau maksud Anda yang tersembunyi, dan jika maksud tersembunyi ini menguasai pikiran sadar Anda maka bawah sadar Anda akan merealisasikan maksud tersembunyi ini, karena inilah yang dominan, yang memenuhi pikiran Anda sehari-hari.

Dengan mengetahui akibat-akibat buruk dari rasa kebencian sepeti diuraikan di atas, untuk apa lagi Anda membenci orang lain? Tidakkah itu hanya membuang energi yang sangat berharga? Alangkah bijaksananya bila Anda menghapuskan kebencian kepada siapa saja!!

Kelima, “berdoa”. Biasakan berdoa memohon bimbingan Ilahi dalam segala hal. Doakan dan harapkan yang terbaik bagi semua orang di sekeliling Anda. Kembangkan kepercayaan atas doa-doa Anda, resapi doa itu sampai ke saraf-saraf Anda, rasakan getaran ketika Anda mengucapkan doa-doa itu dan pasrahkan.

 

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12002751

budaya malu

 Kewajiban berakhlaq mulia bagi seorang muslim merupakan tuntunan syariat yang di ajarkan oleh Rasulullah saw yang berhubungan dengan Allah dengan sesama manusia baik muslim maupun non muslim dan dengan sesama makhluk lain ciptaan-Nya.

Maka sudah selayaknya bagi orang muslim untuk mengikuti sunah dan ajarannya untuk terciptanya suatu masyarakat yang harmonis, saling hormat-menghormati serta mampu menciptakan kerukunan umat antar agama. Dalam masalah ini perlu kita sadari bahwa akhlaq dan kepribadian seseorang merupakan faktor yang paling menentukan apakah ia bisa disenangi atau tidak oleh orang lain. Melalui kepribadian seseorang bisa memperlihatkan dirinya kepada orang lain. Oleh karena itu tiap orang harus menjaga akhlaq dan kepribadiannya dengan menampilkan sifat-sifat terpuji dan perilaku yang luhur. Untuk mengaplikasikan sifat-sifat terpuji di dalam kehidupan kita sehari-hari memang tidak semudah yang kita bayangkan, apalagi fitrah manusia memiliki sifat, watak dan karakteristik yang berbeda. Karena itu tidak mungkin orang memiliki tingkat kualitas akhlaq dan kepribadian yang sama persis.

Adapun cara untuk memperbaiki akhlaq yang buruk seseorang harus berusaha keras serta mau memaksakan diri untuk melakukan lawannya. Misalnya kebiasaan berbohong atau dusta bisa diperbaiki dengan mengusahakan lawan sifat itu yaitu selalu menjunjung sifat jujur. Kesukaan ingkar janji dan khianat bisa diperbaiki dengan membiasakan diri menepati janji. Meskipun pada mulanya amat berat tetapi bila dibiasakan dengan latihan dan perjuangan secara terus-menerus maka lama kelamaan akan ringan dan mudah. Jika kita tidak membiasakan dengan sifat-sifat terpuji secara otomatis kepribadian kita tak lagi di akui di tengah masyarakat dan sekitarnya. Apalagi di era globalisasi ini orang-orang begitu mudahnya mengingkari janji, saling membohongi dan mengumbar syahwat insani. Padahal kepercayaan menurut kalangan bisnis adalah modal utama yang tentunya harus dimulai dari diri sendiri. Bahkan jika dikaji lebih jauh dusta ingkar dan khianat merupakan sifat-sifat tercela dan termasuk ciri kemunafikan. Sebab di dalamnya terdapat unsur meremehkan orang lain sifat yang tentunya harus dihindari oleh umat Islam.

Rasulullah saw bersabda yang artinya “Tanda orang munafik itu tiga walaupun ia puasa dan shalat serta mengaku dirinya muslim. Yaitu jika ia berbicara ia berdusta jika berjanji ia menyalahi dan jika dipercaya ia khianat.”

Dari hadits di atas dapat ditafsirkan bahwa orang munafik ialah orang yang bertolak belakang antara lahir dengan batinnya yakni lahirnya Islam sedangkan batinnya ingkar. Karena itu Rasulullah melukiskan orang munafik itu sebagai orang yang tak jujur dalam semua hal baik kata-kata maupun perbuatannya. Maksudnya walaupun seseorang mengaku muslim mengerjakan shalat dan puasa selama ia suka berlaku tidak jujur ingkar janji dan berkhianat maka ia termasuk golongan orang-orang munafik. Jelasnya sifat munafik sangat meracuni keimanan seseorang. Ironisnya sifat-sifat seperti itu justru banyak terdapat di kalangan umat Islam. Sinyalemen ini bisa kita rasakan kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari. Sifat munafik telah menyusup ke lubuk hati kaum muslimin sehingga sering menimbulkan perilaku-perilaku sosial yang sangat menjengkelkan dan merusak nilai-nilai moral.

Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menghindari sifat-sifat buruk tersebut? Tentunya karena ini mencakup masalah pembinaan moral umat maka salah satu usaha kongkretnya ialah dengan memasyarakatkan budaya malu di kalangan masyarakat untuk melakukan sifat-sifat tercela itu. Kemudian masyarakat diajak untuk membudayakan rasa bangga dan penghormatan kepada orang-orang yang memiliki sifat-sifat sidik konsisten pada janji dan amanah.

Sifat sidik artinya benar lawannya sombong atau dusta. Sidik merupakan sifat utama yang wajib diamalkan oleh semua orang Islam sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah. “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” Bersikap benar tidak suka berbohong mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam masyarakat dan merupakan sikap mental yang sangat dibutuhkan untuk membangun kualitas sumber daya manusia guna mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Karena itulah Rasulullah saw sangat tegas melarang umatnya melakukan dusta kecuali pada tiga hal karena alasan untuk mencapai kebaikan dan menegakkan kebenaran yaitu Pertama suami berbohong kepada istri misalnya menjanjikan sesuatu yang patut dijanjikan kepada seorang istri sekedar untuk menghibur dan menyenangkan hatinya. Kedua berdusta dalam perang sebagai siasat pertempuran. Ketiga dusta yang dilakukan sebagai taktik untuk mendamaikan dua orang muslim yang berselisih. Bahkan untuk keadaan berdusta itu bisa menjadi wajib yaitu bila dalam keadaan darurat atau posisinya terdesak seperti untuk menyelamatkan nyawanya sendiri dari kezhaliman dan kekejaman. Tetapi meskipun demikian harus dipahami bahwa apabila suatu tujuan yang baik dan benar itu sudah bisa dicapai tanpa juga bohong atau dusta itu tetap haram hukumnya.

Menepati janji. Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman peliharalah janji-janji itu.” Perintah untuk memenuhi semua janji sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas sebenarnya merupakan prinsip umum yang harus dipatuhi oleh tiap orang yang terikat kepada suatu janji atau yang mesti berlaku sesuai adat kebiasaan dalam interaksi sosial seperti transaksi jual beli utang piutang kehidupan politik sosial dan sebagainya .Dalam hukum Islam janji adalah utang yang berarti harus dibayar. Ajaran ini jelas sejalan dengan nilai-nilai kedisiplinan yang semakin dituntut bagi perkembangan zaman lebih-lebih dalam konteks kehidupan modern. Masyarakat sangat memerlukan sikap hidup dengan disiplin tinggi teguh pada janji serta menghormati peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan global. Karena itu sebagai petunjuk bentuk ajaran kedisiplinan umat dalam perjanjian Allah SWT telah menunjukkan ketika berjanji bagi orang-orang yang beriman “Dan janganlah kamu mengatakan bahwa sungguh aku akan mengerjakannya besok pagi kecuali dengan menyebut ‘insya Allah’.” “Tepatilah janji sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.”

Sifat amanah artinya tepercaya atau jujur lawannya khianat. Amanah yang diajarkan di dalam Islam meliputi banyak hal di antaranya barang-barang yang dititipkan atau uang yang kita pinjam wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Bisa juga berupa amanah berupa anak dan keturunan agar dididik menjadi orang yang beriman beramal saleh dan berakhlaq mulia. Amanah juga bisa berupa tugas dan jabatan. Di samping itu ilmu harta pangkat umur kesehatan kecerdasan akal dan sebagainya semua itu merupakan amanah dari Allah yang harus dipelihara dan diamalkan sebaik-baiknya sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Pemahaman yang luas tentang makna amanah perlu lebih dimasyarakatkan di kalangan umat sebab sifat amanah atau kejujuran itu biasanya hanya dikaitkan dengan bidang materi misalnya jujur tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya baik dengan mencuri korupsi manipulasi bisnis ataupun tindakan lain yang intinya sama yaitu mengambil yang bukan haknya. Padahal sebenarnya perbuatan tidak jujur di bidang materi itu hanya salah satu segi dari ketidakjujuran. Kejujuran pada hakikatnya meliputi semua bidang kehidupan yang di dalamnya termasuk bidang ilmu pengetahuan pemikiran kekayaan dan sebagainya. Allah SWT berfirman “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimannya.” Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa sifat sidik konsisten pada janji dan amanah apabila benar-benar telah diamalkan oleh kaum muslimin citra Islam pasti akan lebih harum daripada kenyataan selama ini. Sebaliknya citra Islam akan pudar apabila lawan dari sifat-sifat tersebut yaitu bohong ingkar janji dan khianat semakin membudaya di kalangan umatnya. Yang lebih penting lagi bukan masalah citra Islam atau lainnya tetapi tanggung jawab diri kita masing-masing di hadapan Allah SWT. Akhirnya marilah kita renungkan isi hadits peringatan Rasulullah saw berikut ini “Tiadalah beriman orang yang tidak amanah dan tiada beragama orang yang tidak menepati janji.”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19669/budaya-malu/#ixzz1r95FQZMN